Menciptakan pasar sendiri menjadi solusi tepat bagi pembudidaya ikan lele yang kebingungan memasarkan hasil budi dayanya.  Sebab, para pembudidaya ikan lele kerap pusing kepala saat mau memasarkan produk yang dihasilkan. Baik itu berupa bibit lele, lele siap konsumsi maupun olahan ikan lele.

Hal itu juga yang kini dilakukan oleh A. Yahya,  pembudidaya ikan lele di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Yayak-panggilan akrab A. Yahya itu membuat pasar sendiri untuk hasil dari budi daya ikan lele. Pembudida ikan lele yang berlatar belakang jurnalis inipun menerapkan konsep hulu hilir bisnis lele pada kegiatan usaha yang dilakoninya.

Pria kelahiran Lamongan ini melakukan pembibitan ikan lele sendiri di kolam yang dinamai  alpatil di Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

copy link ig

Kemudian bibit ikan lele itu dia besarkan di lokasi yang sama dalam kolam terpal. Begitu lele sudah siap konsumsi, dia jual di warung miliknya kedai elele

Copy link ig

Model hulu hilir bisnis lele itu dibeber Yayak saat menjadi pembicara dalam workshop Pemberdayaan Masyarakat Lokal Melalui Budidaya, Pengelolaan, dan Pemasaran Produk Lele dan Hasil Pertanian.

Workshop diikuti anggota karang taruna, ibu-ibu pkk dan warga desa wonorejo itu diselenggarakan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Wonojero, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang (29/7). ”Kalau punya pasar sendiri enak, nggak bingung menjual ikan saat panen,” kata Yayak kepada peserta workshop.

Yayak mengakui hasil dari budi daya ikan lelenya tidak sepenuhnya terserap di saluran distribusi yang dia buat sendiri. Akan tetapi juga terserap oleh pihak luar. Mulai dari bibit ikan lele, lele siap konsumsi maupun olahannya. ”Ada saja pembelinya. Sebagian yang beli itu teman, tetangga, mahasiswa maupun pembudidaya ikan lele,” ungkap yang menjadi binaan Dinas Pertanian  dan Ketahanan Pangan Pemerintah Kota Malang ini.

Pada saluran distribusi hasil panen di kedai elele, Yayak mengolahnya menjadi beragam produk. Mulai dari lalapan lele, lele goreng, lele geprek, fillet lele krispi, hingga kripik lele.
Di kedai elele ini, dia juga menyediakan penjualan lele siap goreng. Harga yang dipatok haya Rp 20.000 per kilogram. Harga itu masih di bawah harga di pasaran yang seharga Rp 22.000 sampai Rp 23.000 per kilogram. ”Lelenya sudah dibeteti atau dibersihkan. Jadi tingal nggoreng saja,” beber dia.